![]() |
| Istimewa. |
Dugaan itu mencuat setelah sejumlah sumber dan warga sekitar menyampaikan informasi mengenai pola layanan di tempat tersebut yang dinilai tidak sebatas jasa pijat atau perawatan kesehatan.
Informasi yang diterima pelitatoday.com, Sabtu (12/9/2026), menyebutkan bahwa pengunjung laki-laki disebut dapat memilih terapis perempuan melalui sejumlah foto yang dipajang di lokasi.
“Kita bebas memilih pekerja terapisnya, tinggal melihat foto yang dipajang,” ujar salah seorang sumber yang meminta identitasnya dirahasiakan.
Namun, persoalan menjadi lebih serius ketika layanan tersebut diduga berlanjut pada transaksi seksual setelah sesi pijat. Hal ini diungkapkan oleh sumber media ini atas adanya praktik transaksi seksual terselubung yang melibatkan sejumlah terapis perempuan.
“Ada aktivitas transaksi prostitusi terselubung di sana. Pekerja terapis wanita menawarkan transaksi seksual setelah sesi pijat dilakukan,” ungkap sumber itu.
Jika informasi tersebut benar, persoalannya tidak lagi sebatas dugaan pelanggaran terhadap ketentuan usaha jasa pijat atau spa. Aktivitas tersebut berpotensi menyentuh persoalan yang jauh lebih serius, termasuk praktik prostitusi, eksploitasi perempuan, hingga kemungkinan adanya pihak yang mengatur atau mengambil keuntungan dari aktivitas tersebut.
Karena itu, dugaan ini semestinya tidak berhenti pada informasi dari warga maupun sumber lapangan. Pemeriksaan langsung dan penyelidikan oleh instansi berwenang diperlukan untuk memastikan apakah kegiatan yang berlangsung di dalam tempat usaha tersebut sesuai dengan izin dan peruntukannya.
Pantauan di sekitar lokasi juga disebut menunjukkan adanya aktivitas pengunjung yang berlangsung hingga larut malam dengan intensitas yang dinilai tidak lazim oleh sebagian warga.
“Sudah berlangsung lama, dan kami sebagai warga merasa resah. Aktivitasnya juga mencurigakan, terutama pada malam hari,” tambah sumber.
Dugaan aktivitas tersebut sekaligus membuka pertanyaan mengenai efektivitas pengawasan terhadap tempat usaha yang bergerak di bidang spa, massage dan health club di kawasan Harbour Bay.
Apabila benar terdapat praktik di luar layanan yang tercantum dalam izin usaha, publik berhak mempertanyakan bagaimana kegiatan tersebut dapat berlangsung dalam waktu yang tidak singkat tanpa adanya tindakan tegas dari instansi terkait.
Terlebih, jika benar terdapat sejumlah perempuan yang ditawarkan kepada pelanggan dan kemudian terjadi transaksi seksual dengan nilai mencapai jutaan rupiah, maka aparat tidak cukup hanya memeriksa aspek administrasi usaha.
Siapa yang mengelola aktivitas tersebut? Siapa yang menentukan tarif? Apakah seluruh transaksi berlangsung atas kehendak pekerja atau terdapat pihak yang mengambil keuntungan? Dan yang paling penting, apakah ada unsur eksploitasi terhadap perempuan yang bekerja di dalamnya?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut hanya dapat dijawab melalui pemeriksaan dan penyelidikan yang objektif.
Warga meminta Pemerintah Kota Batam melalui perangkat terkait, termasuk Dinas Pariwisata, Dinas Sosial dan Satpol PP, segera melakukan pemeriksaan terhadap aktivitas usaha tersebut sesuai kewenangan masing-masing.
Aparat penegak hukum juga dinilai perlu melakukan pendalaman apabila ditemukan indikasi tindak pidana.
“Peran aktif pemerintah daerah sangat penting. Jangan sampai tempat usaha yang secara administratif terlihat sebagai spa justru digunakan untuk kegiatan lain yang melanggar aturan,” tegas warga tersebut.
Pengawasan juga perlu menyentuh aspek perlindungan terhadap perempuan yang bekerja di sektor jasa hiburan dan pijat.
Sebab, apabila di kemudian hari ditemukan adanya paksaan, ancaman, jeratan utang, eksploitasi atau bentuk perdagangan orang, maka persoalannya bukan lagi sekadar pelanggaran ketertiban umum, melainkan dapat masuk ke ranah pidana serius.
Hingga berita ini diterbitkan, pelitatoday.com belum memperoleh pernyataan resmi dari manajemen Phoenix Spa terkait dugaan tersebut. Instansi pemerintah maupun aparat penegak hukum yang memiliki kewenangan pengawasan juga belum memberikan keterangan mengenai apakah lokasi tersebut pernah diperiksa atau ditindak atas dugaan pelanggaran serupa.
Media ini membuka ruang hak jawab dan klarifikasi bagi pihak manajemen Phoenix maupun instansi terkait. Namun demikian, informasi yang berkembang di masyarakat patut menjadi pintu masuk bagi pengawasan yang lebih serius.
Sebab, jika dugaan tersebut tidak benar, pemeriksaan resmi justru penting untuk membersihkan nama usaha dari tudingan. Sebaliknya, jika ditemukan pelanggaran, publik tentu menunggu tindakan nyata, bukan sekadar pembiaran.
PelitaToday akan terus menelusuri informasi ini, termasuk menyoroti legalitas usaha, mekanisme pengawasan, serta kemungkinan adanya pihak lain yang memperoleh keuntungan dari aktivitas yang diduga berlangsung di balik layanan spa tersebut. Red

Tidak ada komentar:
Posting Komentar