Iklan

Berbuntut Panjang Kasus Dugaan Penyekapan Karyawan, Isteri Ajukan Perlindungan Kepada LPSK

Kamis, Agustus 18, 2022 WIB Last Updated 2022-08-18T04:20:45Z
Advertisement
Kantor LPSK.

Surabaya, pelitatoday.com - Dugaan kasus penyekapan karyawan dengan tersangka Dirut PT Meratus Line (PT ML), berinisial SR ternyata berbuntut panjang. Sebab, korban penyekapan berinisial ES saat ini ternyata sedang meringkuk di penjara alias bui polisi karena dilaporkan melakukan penggelapan oleh perusahaannya.


Langkah perusahaan yang memenjarakan ES ini, membuat MM, sang istri sekaligus pelapor kasus penyekapan, ketakutan. Ia pun mengajukan permohonan pada Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK), agar mendapatkan perlindungan dari lembaga negara tersebut.


Kuasa hukum MM, Fuad Abdullah pun membenarkan langkah tersebut. Ia menyatakan, MM telah mengajukan permohonan perlindungan pada LPSK sejak satu minggu lalu, atau tepatnya pada 10 Agustus 2022.


"Ada beberapa alasan mengapa MM mengajukan perlindungan pada LPSK. Diantaranya adalah, sejak melakukan pelaporan secara pidana terhadap Dirut PT Meratus Line, MM mengaku sering mendapatkan intimidasi atau pun teror dari orang-orang yang tidak dikenal maupun orang yang mengaku dari perusahaan PT Meratus Line," ujar  Fuad Abdullah, dikutip dari Kabarjatim.com, Kamis (18/8/2022).


Dikatakan, teror tersebut, cukup mengintimidasi MM dan keluarganya, lantaran mereka kerap menyinggahi rumah maupun kos-kos an yang dimiliki keluarganya. Kondisi tersebut, kerap kali membuatnya menjadi tidak nyaman dan serba ketakutan.


"Dari keterangan ibu MM, ada orang-orang yang datang ke rumahnya, berteriak-teriak di depan rumah bahkan ada juga yang masuk dan memfoto-foto. Bahkan ada yang mengaku berasal dari PT Meratus Line dan mendatangi pengacaranya waktu itu, menekan agar laporannya ke polisi dicabut. Jika tidak mereka (PT Meratus) akan memenjarakan ibu MM,” katanya.


Akibat teror-teror tersebut, MM  kini mengaku kerap berpindah-pindah tempat untuk menghindari orang-orang yang mengintimidasinya. Dari satu rumah kontrakan menuju ke rumah kontrakan yang lainnya.


Ancaman ini dianggap   tidak main-main. Sebab, sang suami yang awalnya menjadi korban penyekapan oleh perusahaan tempatnya bekerja, kini harus meringkuk di Polda Jatim karena dilaporkan oleh PT Meratus Line dengan laporan melakukan tindak pidana penipuan dan penggelapan, serta pencucian uang sesuai dengan laporan polisi nomor LP/B/75.01/II/2022/SPKT/POLDA JAWA TIMUR, tertanggal 9 Februari 2022,"  ujar Fuad.


"Jadi, dua hari setelah ibu MM ini melaporkan Dirut perusahaan, PT Meratus Line lalu melaporkan suaminya ke Polda Jatim dengan pidana penipuan, penggelapan dan pencucian uang. Yang bersangkutan bahkan sudah dijebloskan ke penjara lebih dulu," ujar Fuad.


Soal kecepatan polisi memproses laporan pidana MM dengan PT Meratus Line juga dipersoalkan nya. "Sebab, Ibu MM melaporkan dugaan penyekapan pada 7 Februari dan polisi baru menetapkan tersangka Dirut PT Meratus Line pada 1 Agustus. Sedangkan Laporan yang dibuat PT Meratus Line ke Polda Jatim tertanggal 9 Februari, ES, sang suami langsung ditahan polisi," jelasnya.


Jadi   ada kesenjangan dalam penanganan polisi. "Ini yang membuat ibu MM kuatir. Dirut PT Meratus Line yang dilaporkannya, ditangani secara lambat oleh polisi. Buktinya, 1 Agustus baru ditetapkan tersangka dan tidak ditahan pula. Sedangkan suami ibu MM yang dilaporkan oleh PT Meratus Line, dilaporkan 9 Februari langsung ditahan hingga kini," ujarnya.  (Red)

Advertisement

  • Berbuntut Panjang Kasus Dugaan Penyekapan Karyawan, Isteri Ajukan Perlindungan Kepada LPSK

Berita Lainnya

- Advertisement -

Ads x