![]() |
| Ketum PJS, Mahmud Marhaba saat menerima audiensi dengan sejumlah mahasiswa politeknik Batam di sela kegiatan Rakernas III PJS di Aula Asrama Haji BP Batam. |
Ajakan tersebut bukan sekadar undangan berwisata, melainkan kesempatan menelusuri jejak kejayaan Kesultanan Riau-Lingga, menyelami khazanah intelektual Melayu, sekaligus mengenal salah satu pusat peradaban yang turut mewarnai perjalanan sejarah bangsa Indonesia.
Pesan Gubernur Ansar disampaikan Sekretaris Daerah (Sekda) Provinsi Kepri, Misni, saat menghadiri pembukaan Rakernas III PJS yang dirangkaikan dengan pelantikan pengurus Dewan Pimpinan Pusat (DPP) PJS di Asrama Haji Batam, Rabu (4/11/2026).
Di hadapan peserta Rakernas yang berasal dari berbagai provinsi, Misni menyampaikan salam hormat sekaligus undangan khusus dari Gubernur Kepri.
"Saya menyampaikan pesan dan salam hormat dari Pak Gubernur. Beliau mengundang rekan-rekan peserta Rakernas III PJS untuk berkunjung ke Pulau Penyengat," ujar Misni.
Menurut Misni, Pulau Penyengat merupakan salah satu destinasi wisata sejarah unggulan Kepulauan Riau yang menyimpan kekayaan budaya, nilai perjuangan, serta warisan intelektual Melayu.
Kunjungan ke pulau tersebut diharapkan memberikan pengalaman berharga bagi para jurnalis untuk mengenal lebih dekat akar sejarah dan identitas budaya masyarakat Kepulauan Riau.
Perlu diketahui, Pulau Penyengat terletak tidak jauh dari pusat Kota Tanjungpinang, Pulau Penyengat menyimpan kisah panjang tentang kejayaan kerajaan Melayu di kawasan Selat Malaka.
Pulau yang dahulu dikenal dengan nama Penyengat Indera Sakti ini pernah memainkan peran penting dalam dinamika politik, pemerintahan, penyebaran agama Islam, hingga perkembangan kesusastraan dan kebudayaan Melayu.
Dalam catatan sejarah, Pulau Penyengat semakin berkembang pada awal abad ke-19, ketika menjadi tempat kedudukan Yang Dipertuan Muda Kerajaan Riau.
Pulau ini juga lekat dengan sebutan Pulau Mas Kawin, merujuk pada kisah pemberiannya oleh Sultan Mahmud Syah III kepada Engku Puteri Raja Hamidah pada 1803.
Seiring perjalanan waktu, Penyengat menjelma menjadi pusat pemerintahan, pendidikan, keagamaan, dan kebudayaan Melayu yang berpengaruh di kawasan Nusantara.
Peran strategisnya semakin menguat ketika Sultan Abdul Rahman Muazzam Syah memindahkan pusat pemerintahan Kesultanan Riau-Lingga dari Daik Lingga ke Pulau Penyengat pada 1900.
Hingga kini, jejak kebesaran masa lalu tersebut masih dapat disaksikan melalui berbagai peninggalan bersejarah yang tersebar di pulau itu.
Salah satu ikon paling monumental adalah Masjid Raya Sultan Riau, bangunan bersejarah yang dikenal dengan keindahan dan kekhasan arsitekturnya.
Masjid yang berkembang pada masa Yang Dipertuan Muda Raja Abdurrahman pada abad ke-19 tersebut juga menyimpan cerita menarik mengenai penggunaan putih telur sebagai salah satu bahan perekat dalam proses pembangunannya.
Selain masjid, Pulau Penyengat memiliki sejumlah situs bersejarah, antara lain kompleks makam Raja Haji Fisabilillah, makam Engku Puteri Raja Hamidah, Istana Kantor, Benteng Bukit Kursi, serta berbagai peninggalan penting lainnya.
Keistimewaan Pulau Penyengat juga tidak dapat dipisahkan dari sosok Raja Ali Haji, pujangga besar dan cendekiawan Melayu yang melahirkan karya monumental Gurindam Dua Belas.
Melalui pemikiran dan karya-karyanya, Raja Ali Haji memberikan kontribusi besar terhadap perkembangan bahasa dan kesusastraan Melayu, yang kemudian menjadi salah satu landasan penting bagi pertumbuhan bahasa Indonesia.
Warisan sejarah dan intelektual itulah yang menjadikan Pulau Penyengat lebih dari sekadar tujuan wisata. Pulau ini merupakan ruang hidup ingatan sejarah, tempat nilai-nilai budaya, perjuangan, dan kebesaran peradaban Melayu tetap terpelihara.
Bagi para jurnalis peserta Rakernas III PJS, kunjungan ke Pulau Penyengat juga dapat menjadi kesempatan menggali beragam kisah sejarah dan budaya yang layak diangkat ke ruang publik melalui karya jurnalistik.
Dengan demikian, ajakan Gubernur Ansar sekaligus membuka peluang bagi insan pers dari berbagai daerah untuk turut memperkenalkan pesona wisata sejarah Kepulauan Riau kepada masyarakat Indonesia.
Sementara itu, pembukaan Rakernas III PJS di Batam juga dirangkaikan dengan pelantikan jajaran pengurus DPP PJS oleh Menteri Koordinator Bidang Pangan, Zulkifli Hasan.
Dalam kepengurusan nasional yang dipimpin Ketua Umum Mahmud Marhaba, didampingi Sekretaris Jenderal Rikky Fermana dan Bendahara Umum Sofyan Siahaan, sejumlah jurnalis asal Kepulauan Riau turut mendapat kepercayaan mengemban amanah organisasi.
Mereka di antaranya Ady Indra Pawennari sebagai Wakil Ketua Umum; Andi Gino, Amril Agin, dan Novianto sebagai Wakil Sekretaris Jenderal; Richard Nainggolan sebagai Ketua Dewan Etik; Qori'ul Fitra di Divisi Kompetensi; Roma Uly Sianturi di Divisi Advokasi dan Pembelaan Wartawan; serta Iman Suryanto di Divisi Usaha dan Ekonomi Kreatif.
Ketua Umum DPP PJS, Mahmud Marhaba, menyampaikan bahwa terdapat sembilan pengurus asal Kepulauan Riau yang tergabung dalam kepengurusan nasional. Seluruhnya, kata dia, merupakan wartawan yang telah mengantongi kompetensi jenjang utama.
"Dari semua pengurus DPP PJS yang dilantik hari ini, sembilan di antaranya berasal dari Kepulauan Riau dan semuanya wartawan utama," jelas Mahmud.
Keterlibatan para wartawan utama asal Kepri dalam struktur kepengurusan nasional tersebut menjadi cerminan kontribusi insan pers daerah dalam memperkuat organisasi, meningkatkan profesionalisme jurnalistik, serta mendorong kemajuan pers siber Indonesia.
Rakernas III PJS di Batam pun tidak hanya menjadi momentum konsolidasi organisasi secara nasional, tetapi juga membuka ruang untuk memperkenalkan kekayaan sejarah, budaya, dan peradaban Melayu Kepulauan Riau kepada insan pers dari seluruh Nusantara. Ril/Red

Tidak ada komentar:
Posting Komentar