![]() |
| PLN Batam saat melakukan konferensi pers terkait blackout di wilayah Batam dan Bintan. |
Selain memaparkan hasil penelusuran teknis, manajemen PLN Batam juga menegaskan komitmennya untuk memenuhi hak pelanggan yang terdampak melalui pemberian kompensasi berdasarkan ketentuan Tingkat Mutu Pelayanan (TMP) dan perjanjian layanan yang berlaku.
Direktur Utama PLN Batam, Kwin Fo, dalam penjelasannya kepada media pada Minggu (18/10/2026), mengungkapkan bahwa gangguan bermula dari peristiwa flashover atau loncatan listrik pada transformator di Gardu Induk Sei Harapan.
Gangguan tersebut kemudian berkembang setelah perangkat pemutus tenaga atau circuit breaker tidak membuka sebagaimana mestinya untuk mengisolasi gangguan.
Akibatnya, gangguan merambat ke jaringan transmisi utama bertegangan 150 kilovolt dan menyebabkan pembangkit listrik di kawasan Tanjung Uncang dengan kapasitas sekitar 220 megawatt terlepas dari sistem.
Kondisi itu memicu ketidakseimbangan pasokan dan beban listrik sehingga berdampak pada pembangkit lainnya serta mengakibatkan pemadaman meluas.
PLN Dalami Penyebab Gangguan Sistem Proteksi
PLN Batam menjelaskan bahwa investigasi masih dilakukan untuk memastikan penyebab menyeluruh gangguan, termasuk faktor yang menyebabkan perangkat pemutus tenaga tidak bekerja sebagaimana diharapkan.
Sebelumnya, perusahaan juga mengidentifikasi dugaan masuknya hewan liar ke kawasan Gardu Induk Sei Harapan sebagai salah satu kemungkinan pemicu awal gangguan.
Meski demikian, dugaan tersebut masih memerlukan pendalaman agar seluruh rangkaian kejadian dapat dijelaskan secara komprehensif.
Evaluasi tidak hanya mencakup kondisi peralatan kelistrikan, tetapi juga efektivitas sistem pengamanan dan langkah pencegahan agar gangguan serupa tidak kembali terjadi.
PLN Batam menegaskan pentingnya memastikan keandalan jaringan, terutama mengingat Batam dan Bintan merupakan kawasan strategis yang menopang aktivitas industri, perdagangan, investasi, dan pelayanan masyarakat.
Pemulihan Pasokan Dilakukan Secara Bertahap
Pemadaman listrik yang terjadi sejak Senin pagi sekitar pukul 06.37 WIB sempat mengganggu berbagai aktivitas masyarakat dan pelaku usaha.
PLN Batam kemudian mengerahkan sumber daya teknis untuk mempercepat proses pemulihan dengan tetap memperhatikan stabilitas sistem kelistrikan.
Pemulihan dilakukan secara bertahap guna menghindari gangguan lanjutan ketika pembangkit dan jaringan kembali dioperasikan.
Sebagian besar pelanggan di Batam mulai mendapatkan kembali pasokan listrik pada Senin malam, sementara pemulihan di sejumlah wilayah lainnya berlanjut hingga hari berikutnya.
Adapun proses normalisasi sistem kelistrikan di Bintan membutuhkan waktu lebih panjang karena penyaluran daya melalui jaringan interkoneksi harus dilakukan secara bertahap.
Perusahaan menyampaikan permohonan maaf atas ketidaknyamanan yang dialami masyarakat selama proses pemadaman dan pemulihan berlangsung.
Kompensasi Pelanggan Mengacu Ketentuan Berlaku
Di tengah proses evaluasi teknis, PLN Batam memastikan pemberian kompensasi kepada pelanggan yang memenuhi persyaratan sesuai standar mutu pelayanan dan jenis layanan yang diperjanjikan.
Sekretaris Perusahaan PLN Batam, Rudi Antono, menjelaskan bahwa kompensasi merupakan bagian dari pemenuhan hak pelanggan atas pelayanan kelistrikan.
Bagi pelanggan reguler, kompensasi ditetapkan sebesar 10 persen dari biaya beban bulanan dengan mengacu pada Peraturan Gubernur Kepulauan Riau Nomor 22 Tahun 2017.
Sementara itu, pelanggan layanan keandalan dapat memperoleh kompensasi sebesar 15 hingga 25 persen dari Rupiah Pemakaian Tenaga Listrik (RPTL), bergantung pada kategori dan ketentuan layanan masing-masing.
Kompensasi tersebut diperhitungkan secara otomatis melalui tagihan listrik berikutnya bagi pelanggan yang memenuhi persyaratan, tanpa harus mengajukan klaim secara terpisah.
Dengan demikian, besaran kompensasi tidak dapat disamaratakan sebagai potongan langsung dari keseluruhan tagihan listrik karena dasar perhitungannya berbeda menurut jenis layanan.
Keandalan Listrik Menjadi Prioritas
Peristiwa blackout Batam–Bintan menjadi perhatian penting terhadap ketahanan infrastruktur kelistrikan di Kepulauan Riau.
Sebagai salah satu pusat pertumbuhan ekonomi nasional, Batam membutuhkan pasokan energi yang stabil dan berkesinambungan untuk mendukung aktivitas industri, dunia usaha, investasi, serta kebutuhan rumah tangga.
Gangguan kelistrikan berskala luas juga menjadi momentum untuk memperkuat sistem proteksi, meningkatkan efektivitas pemeliharaan, dan menyempurnakan prosedur penanganan gangguan.
Karena itu, hasil investigasi diharapkan tidak hanya memberikan kepastian mengenai penyebab blackout, tetapi juga menjadi dasar perbaikan sistem kelistrikan secara menyeluruh.
Transparansi hasil evaluasi menjadi penting untuk menjaga kepercayaan masyarakat sekaligus memberikan kepastian kepada dunia usaha terhadap keandalan pasokan energi di Batam dan Bintan.
Pada akhirnya, pemulihan listrik bukan sekadar mengembalikan aliran energi kepada pelanggan, melainkan juga memastikan sistem kelistrikan semakin tangguh, pelayanan semakin baik, dan hak masyarakat tetap terlindungi. Red

Tidak ada komentar:
Posting Komentar