![]() |
| Sekjen Peradi Bersatu, Ade Darmawan. |
Dalam sebuah video yang beredar, Ade Darmawan menyampaikan agar insan pers tetap bersatu dalam mengungkap sesuatu.
"Saya ingatkan ya, yang berani mengancam insan pers, yaitu kekasih Peradi Bersatu. Berarti dia berhadapan dengan Peradi Bersatu," tegasnya.
Ade menambahkan bahwa insan pers bekerja dengan susah payah mengungkap semua fakta dengan bertaruh nyawa.
"Teman-teman insan pers jangan takut. Ada apa-apa, hubungi Peradi Bersatu," pungkasnya.
Diakhiri video tersebut, Ade juga menyampaikan ada sesuatu kesalahan inisial L yang akan diungkap kedepannya.
Disisi lain, rencana aksi demonstrasi yang akan dilakukan sejumlah wartawan yang tergabung dalam Forum Barisan Perlawanan Wartawan (FBPW) Kota Batam di depan Gedung BP Batam dan Kantor Wali Kota Batam tiba-tiba dibatalkan.
Padahal, FBPW sebelumnya telah menyampaikan surat pemberitahuan aksi secara resmi kepada Satintelkam Polresta Barelang pada Sabtu (29/8/2026).
Aksi tersebut sedianya dilaksanakan pada 3 September 2026 dan menjadi ruang penyampaian aspirasi para jurnalis terkait sejumlah persoalan yang dinilai menyangkut kebebasan pers dan hubungan antara insan pers dengan pejabat pemerintahan di Batam.
Sejumlah tuntutan yang diagendakan dalam aksi antara lain permintaan maaf secara terbuka atau pengunduran diri, evaluasi terhadap Kepala BP Batam, klarifikasi terbuka, jaminan kebebasan pers tanpa intimidasi, kesepakatan tertulis, serta jaminan tidak adanya pelaporan hukum setelah aksi berlangsung.
Namun, rencana tersebut akhirnya dibatalkan. Keputusan itu disampaikan Koordinator Aksi FBPW Kota Batam, Cipta Gemindo Saragih, melalui grup WhatsApp Forum Barisan Perlawanan Wartawan Kota Batam, Rabu (2/9/2026).
Dalam keterangannya, Gemindo menyebut adanya kekhawatiran bahwa aksi yang sejak awal dimaksudkan sebagai penyampaian aspirasi insan pers akan ditunggangi oleh massa dari luar kalangan wartawan.
“Dalam hal ini ditegaskan bahwa di balik aksi nantinya sudah ada 5.000 massa yang bukan insan pers yang akan ikut nebeng,” tulis Gemindo, menjawab pertanyaan anggota grup terkait pencabutan surat pemberitahuan aksi oleh pihak kepolisian.
Ia menyebut massa di luar kalangan pers tersebut berasal dari sejumlah wilayah di Batam dan disebut memiliki persoalan serta kekecewaan terhadap kepemimpinan Wakil Wali Kota Batam sekaligus Wakil Kepala BP Batam, Li Claudia Chandra.
“Mereka yang di luar pers dari Nongsa, Batu Aji, Tanjung Piayu dan lainnya ingin melampiaskan rasa marah dan kecewa atas kepemimpinan Li Claudia dan KEOS. Perjuangan kita murni sikap atas pernyataan Li Claudia yang kemarin terjadi,” lanjutnya.
Meski aksi demonstrasi dibatalkan, Gemindo menegaskan bahwa agenda penyampaian aspirasi dan perjuangan FBPW terkait persoalan tersebut tidak dihentikan.
Menurutnya, komunikasi antara pihak wartawan dengan Li Claudia Chandra masih diupayakan melalui jalur pertemuan.
“Perjuangan ini akan tetap ada. Li Claudia masih di Jakarta menghadiri RDP dengan Komisi VI DPR RI. Penjembatan komunikasi Li Claudia dan insan pers untuk pertemuan dijadwalkan oleh Kapolda Kepri dan janji itu disaksikan Kapolres, Kasat Intel, serta Direktur Intelkam,” tegasnya.
Gemindo juga menjelaskan bahwa pertemuan tersebut nantinya tidak akan digelar di lingkungan kantor pemerintahan, baik di BP Batam maupun Pemerintah Kota Batam.
“Tapi tidak di BP Batam maupun di Pemko, di luar tempatnya. Jadi kita masih menunggu pertemuan dengan Li Claudia Chandra. Jadi mohon miskomunikasi ini disampaikan,” tutupnya.
Perlu diketahui, pernyataan kontroversial Wakil Wali Kota sekaligus Wakil Kepala Badan Pengusahaan (BP) Batam, Li Claudia Chandra, yang dinilai mengancam akan memutus kerja sama dan hubungan pertemanan dengan media massa, menuai kecaman keras dari sejumlah pihak.
Sikap tersebut dinilai sebagai preseden buruk yang mencerminkan ketidaksiapan pemimpin dalam menerima kontrol sosial dan juga berbagai kritik dari masyarakat.
Celakanya, gertakan itu dilontarkan Li Claudia di hadapan insan pers dalam sebuah forum di Gedung Marketing BP Batam, Rabu (26/8/2026) lalu.
Dengan wajah serius, ia meluapkan kekecewaannya terhadap media lokal yang gencar mengkritik jalannya pemerintahan. Alih-alih membuka ruang dialog, Li Claudia justru memberikan ultimatum di tempat agar para pimpinan media segera menentukan sikap atas keberlanjutan kemitraan mereka.
“Masih mau kerja sama nggak? Katakan di sini. Kalau nggak, selesai kita hari ini, putus hubungan kita. Putus hubungan, putus pertemanan,” ujar Li Claudia dengan nada tinggi dalam forum tersebut.
Hingga berita ini dipublikasikan, Wakil Kepala BP Batam sekaligus Wakil Walikota Batam, Li Claudia Chandra belum berhasil dimintai keterangan. Red

Tidak ada komentar:
Posting Komentar