Ads Responsif

Iklan

Wow Keren, Uji Coba Pengolahan Sampah oleh Komunitas Bimasena

Minggu, 21 November WIB Last Updated 2021-11-21T10:39:24Z

Uji coba pengolahan sampah oleh komunitas Bimasena. (Dok: Guntur)

Kota Tangerang, pelitatoday.com - Komunitas Bimasena atau Bersih Indah Makmur Sejuk Nan Asri merupakan wadah warga perumahan Angkasa Pura 2, Kelurahan Karang Anyar Kecamatan Neglasari,  Kota Tangerang. 


Komunitas Bimasena yang terbentuk pada Agustus 2021 ini mengajak warga dalam berbagai kegiatan yang bermanfaat untuk lingkungan,  salah satunya pengolahan sampah.


Sementara uji coba pengolahan sampah yang dilakukan Komunitas Bimasena sudah berjalan 2 hari, yang dimulai (16/11/2021)  di  lingkungan RW 07, Kelurahan Karang Anyar, Kecamatan Neglasari, Kota Tangerang di Perumahan Angkasa Pura 2.


Ketua Komunitas Bimasena, Prima Diansyah mengatakan, terbentuknya komunitas berawal dari pembicaraan pengolahan sampah di lingkungan. Selanjutnya  warga berinisiatif untuk pengolahan sampah yang dihasilkan, agar dapat mengurangi debit sampah pada Tempat Pembuangan Akhir (TPA) di Rawa Kucing.


"Warga berinisiatif mendirikan pengolahan sampah. Sampah organik diolah menjadi kompos dan anorganik dipilah untuk menjadi bahan baku daur ulang," katanya.


Foto istimewa (Dok: Guntur)

Dan akhirnya, mulai uji coba pengolahan sampah  yang menggunakan alat untuk membakar sampah, yakni Insenerator. Melalui alat tersebut, dipastikan tak ada sisa sampah yang dibuang ke TPA Rawa Kucing.


"Sisa sampah organik yang tak terpakai dibakar dengan insenerator sampai habis menjadi abu. Lalu plastik dan karet yang tak dapat dipilah untuk dijual akan diolah menjadi minyak solar," ungkapnya.


Program Tempat Pengelohan Sampah terpadu (TPST) yang dilakukan Komunitas Bimasena mendapat apresiasi dan dukungan oleh Pemkot Tangerang melalui Kelurahan, kecamatan dan dinas-dinas terkait.


Manfaatkan Lahan Tidur Menjadi Ketahanan Pangan 


Selain membangun Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Komunitas Bimasena mengerakkan pembangunan sarana ketahanan pangan.


Lahan tidur di perumahan dimanfaatkan menjadi lahan ketahanan pangan bagi Kelompok Wanita Tani (KWT) tingkat RW dengan nama KWT Bambu.


Foto Istimewa (Dok: Guntur)

Ketua komunitas Bimasena, Prima Diansyah mengatakan, berdirinya Komunitas Wanita Tani (KWT) Bambu berawal dari adanya program  kecamatan yakni proklim.


Di alam program kampung Iklim (Proklim), terdapat enam komponen yang harus dipenuhi di antaranya. 

• Pengendalian kekeringan, dan banjir. 

• Peningkatan ketahanan

 • Pengendalian terkait Iklim 

• Pengolahan Sampah Limbah padat dan cair 

• Energy terbarukan konvervasi

• Penghijauan. 


Komunitas Bimasena dibantu warga setempat bergotong-royong membangun KWT di lahan tidur. "Tadinya lahan belukar, kita bangun jadi KWT ada tanaman sayur mayur, budidaya ikan, sudah sering panen dan dibagikan kembali ke warga," ujarnya. 


Lanjut Prima Diansyah, Komuntas Wanita Tani (KWT) Bambu yang dibangun oleh Komunitas Bimasena tak sekedar menjadi lokasi ketahanan pangan, namun juga menjadi sarana rekreasi dan edukasi bagi warga setempat, juga direncana membangun kolam ikan hias, bangun saung, dan Rumah pohon Dan juga ada permainan anak.


Sementara membangun ruang terbuka hijau dilihat oleh Pemkot Tangerang melalui bidang pertamanan. "Mereka membantu dengan memberikan kebutuhan untuk taman seperti rumput sintetis, batu alam, ayunan dan lainnya," katanya.


Camat  Neglasari, Tubagus Sani, S.AP.M.Si menyampaikan, pihaknya mendukung upaya warga yang tergabung dalam komunitas Bimasena bersama Lurah Karanganyar, Andia S.STP, M.Si yang  secara swadaya telah berupaya menata lingkungan dan mengelola sampah rumah tangga secara terpadu, agar tidak menambah debit sampah yang  masuk ke TPA Rawakucing.  


"Mudah-mudahan inisiatif dan sinergi seperti ini juga  bisa berkembang di wilayah lain, khususnya di kelurahan- kelurahan yang ada di wilayah Kecamatan Neglasari," ungkapnya.


Sementara itu, Lurah Karanganyar, Andia S.STP, M.Si mengatakan, pada prinsifnya komunitas Bimasena sedang melakukan uji coba secara bertahap, dimulai dari  1 RT. 


"Alhamdulillah sudah  berjalan, walau ada beberapa catatan yang ke depan menjadi bahan evaluasi, seperti masih adanya asap dari  incinerator. Hal ini sedang dalam upaya riset dari teman-teman mahasiswa UNPAD dengan alat dan teknik web scrubber, dan electro static prexipitator," katanya. 


Menurutnya, sebenarnya alat-alat itu di pasaran sudah ada buatan dari  German dan China dengan kisaran harga  80 s/d 160 juta  rupiah. 


"Kita berharap riset ini bisa menghasilkan teknologi yang  sama, tapi dengan harga jauh dibawah itu dan yang terpenting adalah itu hasil karya anak bangsa. Mudah-mudahan kedepan kami mendapat support terkait dengan kebutuhan riset ini," ujarnya. (Guntur)


#Advertorial.

Komentar
Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE. #JernihBerkomentar
  • Wow Keren, Uji Coba Pengolahan Sampah oleh Komunitas Bimasena

Ads Responsif

Berita Lainnya

Ads Responsif