Iklan

Fakta "Proyek Siluman" di Pulau Kasu Batam?

Rabu, Juni 17, 2026 WIB Last Updated 2026-06-17T11:50:17Z
Advertisement
Potret Pulau Kasu Batam.

Batam, pelitatoday.com - Polemik dugaan "proyek siluman" di Pulau Kasu jadi topik hangat yang patut ditelusuri untuk mencari fakta dan kebenaran.


Dari informasi yang berhasil dirangkum pelitatoday.com, polemik ini bermula saat Gubernur LSM LIRA Kepri, Yusril Koto membuat postingan di akun tiktok pribadinya dengan narasi meminta transparansi dan mendesak pengusutan dugaan proyek siluman di pulau kasu. Bahkan, Yusril Koto dalam postingan itu menduga ada oknum dewan bermain.


Sontak, postingan itu menimbulkan kemarahan warga Pulau Kasu dan memutuskan untuk melakukan aksi demonstrasi di depan Kantor LSM LIRA Kepri yang bertempat di Batam Center pada Senin (15/6) lalu.


Aksi dengan mengatasnamakan Aliansi Masyarakat Pulau itu menyampaikan tiga tuntutan, yakni meminta Yusril Koto meminta maaf secara terbuka; mendesak pengurus pusat LIRA mencopot Yusril dari jabatannya; dan meminta aparat penegak hukum mengusut unggahan yang dinilai merugikan nama baik warga.


Menanggapi aksi demo yang dilakukan Aliansi Masyarakat Pulau itu, Yusril Koto memberikan tanggapan melalui unggahan video di akun tiktok pribadinya.


"Saya menghormati hak masyarakat menyampaikan pendapat. Tapi saya curiga ada pihak tertentu yang menunggangi. Dugaan saya mengarah ke oknum DPRD yang terganggu dengan informasi yang saya sampaikan soal proyek siluman di Pulau Kasu," ujar Yusril dalam unggahan videonya.


Yusril menegaskan unggahan di media sosialnya tidak bertujuan menyerang atau mencemarkan nama baik warga Pulau Kasu. Ia mengklaim dirinya hanya melakukan fungsi kontrol sosial LIRA untuk menjaga transparansi anggaran publik.


Namun, Yusril mengaku heran karena persoalan berubah menjadi tuntutan pencopotan dirinya dari jabatan ketua.


"Saya duga oknum DPRD merasa terusik, lalu menggerakkan opini sehingga masyarakat ikut tersulut. Ini dugaan kuat yang perlu ditelusuri," tambahnya.


Belakangan, Yusril Koto memamerkan screenshot narasi Proyek Penataan Prasarana, Sarana, dan Utilitas (PSU) di RW 04 Pulau Kasu, Kecamatan Belakang Padang, Kota Batam.


Dalam artikel yang sudah dipublikasikan di situs website liranews.com, Gubernur LSM Lumbung Informasi Rakyat (LIRA) Kepulauan Riau (Kepri), Yusril Koto, membongkar dugaan pelanggaran hukum berat dalam proyek senilai Rp4,2 miliar dari APBD Provinsi Kepri Tahun Anggaran 2026 tersebut.


Dalam narasinya, pekerjaan fisik dilapangan dilaporkan diduga telah dicuri start sebelum adanya penetapan resmi rekanan perusahaan maupun penandatanganan kontrak kerja.


Anehnya, narasi 'proyek siluman' itu diduga dilontarkan Yusril Koto setelah mendapat aduan dari Bendaharanya sendiri, yakni Rudy Widjaya. 


Dimana, Rudy adalah pengusaha pemasok material yang telah mengirimkan logistik bangunan senilai ratusan juta rupiah ke Pulau Kasu sejak September 2025 hingga Mei 2026.


Fakta dilapangan sesuai hasil verifikasi 


Pada Rabu, 17 Juni 2026, pelitatoday.com bersama dengan tim Pro Jurnalismedia Siber Dewan Perwakilan Daerah Kepulauan Riau mendatangi Pulau Kasu dengan menggunakan perahu melalui Pelabuhan Rakyat Tanjung Riau.


Kedatangan tim wartawan di Pulau Kasu langsung disambut hangat oleh warga sekitar dan mengajak untuk menyusuri sejumlah pembagunan yang sudah berlangsung di Pulau tersebut.


Potret pembagunan batu miring di Pulau Kasu.

Tidak ada teriakan kemarahan. Tidak ada penolakan. Yang terdengar justru sapaan hangat dan ajakan sederhana, "Mari kami tunjukkan sendiri." Begitulah sambutan warga Pulau Kasu kepada tim DPD PJS Kepri yang tiba sekitar pukul 11.20 WIB. Masyarakat ingin memastikan bahwa fakta di lapangan berbicara lebih lantang daripada narasi yang beredar tanpa verifikasi.


"Daripada hanya mendengar cerita orang, lebih baik lihat langsung," ujar salah seorang warga, kepada tim jurnalis.


Tanpa banyak basa-basi, warga kemudian mengajak tim menyusuri jalan-jalan di Pulau Kasu. Tujuan pertama adalah pembangunan jalan lingkar desa yang disebut-sebut dalam berbagai isu.


Di lokasi, tim mendapati sebagian ruas jalan telah selesai dibangun, sementara sebagian lainnya masih dalam tahap pematangan lahan. Jalan yang direncanakan mengelilingi kawasan permukiman itu memiliki panjang sekitar 2,5 kilometer dan dikerjakan secara bertahap melalui Tahun Anggaran 2025 dan 2026.


Ketua RT 01 Pulau Kasu, Suhardi, menjelaskan bahwa akses tersebut merupakan kebutuhan mendesak masyarakat.


"Jalan ini sering dipakai anak-anak sekolah karena lebih dekat. Kalau lewat sini, jaraknya bisa dipangkas. Kami berharap pembangunannya segera dilanjutkan sampai selesai," katanya.


Suhardi kemudian menunjukkan kondisi jalan tanah merah yang licin ketika hujan turun.


"Kalau musim hujan seperti ini, warga sangat kesulitan melintas. Karena itu kami berharap pembangunan segera dituntaskan agar masyarakat memiliki akses yang layak," ujarnya.


Penelusuran kemudian dilanjutkan menuju lokasi proyek batu miring yang sebelumnya ramai disebut sebagai "proyek siluman".


Narasi yang berkembang menyebut proyek tersebut tidak ditemukan di lapangan. Namun, hasil verifikasi tim menunjukkan fakta berbeda.


Dilokasi, tidak ada terlihat plang pembagunan batu miring dengan anggaran tahun 2026 seperti yang diisukan. Namun, faktanya ada fisik pembagunan batu miring. Warga menyampaikan bahwa pengerjaan itu berlangsung berkat donatur dan dilakukan secara swadaya masyarakat.


Bangunan batu miring tampak berdiri kokoh menghadap ke arah barat. Susunan batu terlihat jelas memanjang mengikuti garis pesisir. Bahkan, di sejumlah titik masih terlihat aktivitas pekerjaan lanjutan yang menunjukkan bahwa pembangunan belum sepenuhnya rampung dan material batu dan besi masih tersedia di sekitar lokasi sebagai bagian dari kelanjutan pekerjaan.


Ketua Forum RT/RW Pulau Kasu, Dani, mengaku kecewa atas tudingan yang menurutnya muncul tanpa didahului pengecekan lapangan.


"Kalau disebut proyek siluman, kami sebagai masyarakat merasa tersinggung. Bapak-bapak lihat sendiri, proyeknya ada, batunya ada, bangunannya berdiri. Bahkan masih ada pekerjaan yang harus dilanjutkan. Kami heran kenapa bisa muncul tudingan seperti itu tanpa datang melihat langsung," ujarnya.


Ketua Forum RT/RW Pulau Kasu, Dani, saat menunjukkan pembagunan batu miring di Pulau Kasu yang diakui dikerjakan dengan Swadaya masyarakat.

Menurut Dani, masyarakat tidak pernah anti terhadap kritik. Namun kritik yang disampaikan kepada publik harus melalui proses verifikasi.


"Silakan mengkritik. Itu hak setiap warga negara. Tapi jangan sampai menyampaikan sesuatu yang belum dipastikan kebenarannya. Datang dulu ke sini, lihat sendiri, baru berbicara. Jangan sampai masyarakat kami yang jadi korban karena informasi yang tidak utuh," katanya.


Dani menjelaskan bahwa keberadaan batu miring tersebut memiliki fungsi penting bagi warga Pulau Kasu, yakni memperkuat kawasan pesisir sekaligus menunjang pembangunan akses jalan lingkar desa yang selama ini menjadi impian masyarakat.


"Di balik batu miring ini ada jalan lingkar desa yang kami harapkan selesai. Itu impian masyarakat Pulau Kasu sejak lama. Pastinya, semua pembangunan di sini lakukan secara swadaya," katanya.


Masjid Nur Iman dan Ponpes Nurul Iman Berdiri Nyata


Tim kemudian bergerak menuju Masjid Nur Iman yang juga sempat dikaitkan dalam isu yang berkembang.


Hasil pantauan di lapangan menunjukkan bangunan masjid berdiri kokoh dan aktif digunakan masyarakat untuk beribadah. Di area depan masjid, pekerjaan batu miring juga masih berlangsung dengan sejumlah tukang terlihat bekerja.


Tak jauh dari lokasi masjid, berdiri Pondok Pesantren Nurul Iman yang menjadi tempat pendidikan agama bagi anak-anak Pulau Kasu.


Imam Masjid Nur Iman, Azhar, mengaku sedih ketika mendengar adanya narasi yang menyebut bantuan pembangunan di desanya seolah-olah tidak nyata.


"Kami kecewa mendengar pernyataan seperti itu. Orang yang berbicara mungkin belum pernah datang ke sini. Kami di Pulau Kasu sedang berjuang membangun kampung kami dengan segala keterbatasan yang ada," ujarnya.


Potret Masjid Nur Iman di Pulau Kasu yang hingga kini masih proses pengerjaan. 

Menurut Azhar, kehadiran Pondok Pesantren Nurul Iman membawa harapan baru bagi masyarakat.


"Kami berharap anak-anak di Pulau Kasu bisa mendapatkan pendidikan agama yang baik melalui ponpes ini. Jangan sampai semangat masyarakat membangun desa dipatahkan oleh narasi yang tidak sesuai dengan fakta lapangan," katanya.


Terpisah, Lurah Kasu, Budi, yang ditemui tim di kawasan dermaga, turut memberikan penjelasan mengenai berbagai pembangunan yang berlangsung di wilayahnya.


Ia menegaskan bahwa infrastruktur yang dibangun memang dibutuhkan masyarakat.


"Kalau ditanya manfaatnya, tentu masyarakat sangat terbantu. Batu miring ini penting untuk memperkuat dan melindungi kawasan pesisir dari abrasi. Jalan lingkar desa menjadi akses yang dibutuhkan warga dalam menjalankan aktivitas sehari-hari," ujarnya.


Menurut Budi, kondisi geografis Pulau Kasu sebagai wilayah kepulauan membuat infrastruktur memiliki arti strategis.


"Jalan bukan hanya mempermudah mobilitas, tetapi juga mendukung pendidikan, ekonomi, dan kehidupan sosial masyarakat. Kami berharap pembangunannya dapat dilanjutkan hingga selesai," katanya.


Ia juga mengapresiasi keberadaan Masjid Nur Iman dan Pondok Pesantren Nurul Iman.


"Kami sangat terbantu dengan hadirnya Pondok Pesantren Nurul Iman untuk mendidik generasi muda dalam pengajaran iman dan takwa. Ini menjadi investasi jangka panjang bagi masyarakat Pulau Kasu," ungkapnya.


Budi berharap polemik yang berkembang tidak mengaburkan manfaat pembangunan yang telah dirasakan masyarakat.


"Kalau ada kritik tentu baik sebagai bentuk pengawasan. Tapi alangkah lebih bijak jika melihat langsung kondisi di lapangan dan mendengar suara masyarakat yang merasakan manfaatnya," tutupnya. Red

Advertisement

  • Fakta "Proyek Siluman" di Pulau Kasu Batam?
Komentar
Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE. #JernihBerkomentar

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Berita Lainnya

- Advertisement -

Ads x