![]() |
| Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN) Luhut Binsar Pandjaitan. (Foto: Antara). |
Koordinator Nasional Jaringan Advokasi Tambang (Kornas Jatam), Melky Nahar mengaku tak bisa mempercayai pernyataan Luhut begitu saja. Meski, memang tak ada nama Luhut dalam kepengurusan PT TPL.
"Luhut bantah miliki saham atau afiliasi TPL, boleh-boleh saja. Tapi, fokus kita bukan sebatas dia punya saham, atau tidak. Tetapi fakta bahwa operasional TPL berkontribusi terhadap deforestasi hutan yang memicu banjir dan longsor di Sumut, tidak bisa dibantah," papar Melky dikutip dari siniar laporan JATAM bertajuk Katastrofe Sumatera: Jejak Oligarki di Hulu, DAS, dan Zona Rawan Bencana, Sabtu (17/1/2026).
Dikatakan Melky, operasional Toba Pulp Lestari yang berkode saham INRU itu, jelas-jelas berada di struktur risiko bencana. Hasil riset terbaru dari Earthsight dan Auriga Nusantara mengidentifikasi TPL melibas hutan alam yang dilindungi.
"Jadi bantahan Luhut secara pribadi itu, tidak otomatis membantah temuan bahwa model bisnis TPL merusak hutan di Toba," ungkapnya.
Peneliti Toba Institute, Delima Silalahi sepakat dengan Melky, jangan mudah mempercayai pernyataan pejabat negara saat ini. "Saya sepakat dengan Bank Melky, jangan gampang percaya dengan omongan pejabat, saat ini. Memang setelah ditelusuri, nama Luhut tak ada dalam pengurusan TPL," bebernya di acara yang sama.
Namun demikian, Delima mempertanyakan Luhut sebagai pejabat negara serta tokoh asal Toba, Sumatera Utara (Sumut), yang justru mendiamkan operasional TPL yang menimbulkan kerusakan lingkungan.
"Opung ini kan pejabat lama sampai sekarang masih pejabat. Asli Toba pula, kok mendiamkan kerusakan yang ditinggalkan TPL. Sangat disayangkan, dia tidak berbuat apapun," tandasnya.
Selanjutnya dia menantang Luhut untuk membuktikan kecintaan terhadap tanah kelahiran dengan menutup operasional PT TPL. Jangan hanya mengeluarkan bantahan di media, masalah pun dianggap selesai.
"Tidak ada kata terlambat, kalau dia berani mengatakan clear, misalnya, kemudian menutupnya secara permanen dalam waktu sesegera mungkin. Kita akan sangat apresiasi," imbuhnya.
Begini Bantahan Luhut
Lewat media sosial (medsos), Luhut bantah memiliki saham PT Toba Pulp Lestari Tbk (TPL) yang dituding biang kerok banjir bandang dan longsor di Sumatera Utara (Sumut).
“Kalau ada orang nuduh saya punya saham, saham mana? Tunjukkan. Saya tidak pernah punya saham, kecuali di perusahaan saya, yaitu Toba Sejahtera yang saya buat sendiri,” kata Luhut dikutip dari Instagram pribadi, Sabtu (17/1).
Luhut bercerita, ketika menjabat Menteri Perdagangan dan Industri, dirinya langsung ke Kabupaten Toba, Sumut, pada 2000. Dia melihat langsung warga Toba mendemo TPL yang sebelumnya bernama PT Inti Indorayon Utama Tbk. Perusahaan itu disebut membeli kayu dari masyarakat dari memotong pohon di hutan.
Namun, kata Luhut, dampak aktivitas perusahaan itu menyebabkan kerusakan lingkungan, ada bau menyengat, berdampak ke aliran air yang bermuara di Danau Toba, dan lain-lain. Setelah dari kunjungan itu, dia mengusulkan kepada Presiden Abdurrahman Wahid alias Gus Dur agar aktivitas perusahaan ditutup.
Dia pun menolak keberadaan PT TPL sejak melihat langsung. “Kalau saya enggak keliru, itu ditutup sebentar. Tapi berjalannya waktu, itu dibuka lagi karena lobinya luar biasa,” ucap Luhut.
sumber: inilahcom
