Ads Responsif

Iklan

Sebelum Wafat, Aktivis Birgaldo Sinaga Buat Tim 'Relawan Kemanusiaan Sahabat Birgaldo Sinaga'

Sabtu, 15 Mei WIB Last Updated 2021-05-15T07:29:02Z
Foto Almarhum Birgaldo Sinaga (Dok: Facebook Birgaldo Sinaga)


Jakarta -
Pegiat media sosial Birgaldo Sinaga meninggal dunia usai berjuang melawan COVID-19 dan sempat kritis di ICU. Ia sebelumnya mengeluhkan sejumlah gejala Corona dari sesak napas hingga batuk berdarah.


Hal tersebut sempat disampaikan dirinya lewat unggahan di media sosial Twitter pribadinya. Cuitan tersebut kini dibanjiri ungkapan duka dan doa netizen.


Sebelum wafat, ia sempat menjadi relawan penanggulangan virus Corona COVID-19. Kala itu, tugasnya sehari-hari menjadi penyemprot disinfektan.


Pria asal Batam, Kepulauan Riau ini resmi bergabung dengan Gugus Tugas COVID-19 di awal wabah Corona merebak di Indonesia. Ia bersama teman-temannya berinisiatif membuat sebuah tim bernama 'Relawan Kemanusiaan Sahabat Birgaldo Sinaga'.


"Siang-siang bagi makan, sore semprot disinfektan," kata Birgaldo kepada detikcom. Selasa (7/4/2020).


Aksinya ini sempat viral di media sosial dan banyak mendapat sorotan dari para netizen. Tak sedikit yang kagum saat dirinya rela menjadi relawan di tengah risiko terpapar COVID-19 amat tinggi.


"Saat melihat senyum saudara-saudara sebangsa bisa makan itu rasanya terharu banget. Sedihnya mendengar curhat mereka mas, dari pagi sampai siang berjuang kadang belum dapat uang sepeser pun," ucap Birgaldo.


Foto Istimewa (Dok: detikNews)


"Kemarin saya telat antar makan siang karena kurang enak badan. Jam setengah tiga sore mereka belum makan siang mas. Nyesek dada saya, duit mau beli makan nggak ada," lanjutnya saat bercerita kepada detikcom.



Berbekal baju hazmat alat pelindung diri (APD), dirinya dengan sigap mengantarkan makanan kepada mereka yang membutuhkan seperti tukang becak, dan sejumlah pekerja yang masih harus mencari nafkah di tengah pengetatan Corona. Ia mengaku, niatnya ini ingin membuat para dokter dan perawat tak merasa berjuang sendirian.


"Keringat bercucuran sepanjang pakai APD. Bernapas juga terganggu karena pakai masker dan face shields. Jadi saya tahu gimana (capainya) para dokter dan perawat itu saat bertugas," jelasnya.


"Saya tidak punya rencana kapan berakhir. Mengalir saja sebisa dan sekuatnya saya dan teman-teman," pungkasnya. ***


Sumber : Detiknews
Komentar
Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE. #JernihBerkomentar
  • Sebelum Wafat, Aktivis Birgaldo Sinaga Buat Tim 'Relawan Kemanusiaan Sahabat Birgaldo Sinaga'

Ads Responsif

Berita Lainnya

Ads Responsif

Ads x