Ads Responsif

Iklan

Simak! Isi Surat Lukita Dinarsyah Tuwo Singgung Hancurnya Ekonomi Batam

Sabtu, 05 Desember WIB Last Updated 2020-12-05T10:56:42Z
Lukita Dinarsyah Tuwo (Foto Ist)


Batam -
Menjelang pemilihan Walikota dan Wakil Walikota Batam tanggal 9 Desember mendatang. Calon Walikota Batam Lukita Dinarsyah Tuwo menuliskan sebuah surat berisi alasan dan tujuan dirinya maju sebagai Calon Walikota Batam.


Berikut isi surat Lukita Dinarsyah Tuwo, sang penantang petahana Muhammad Rudi.



Assalamualikum Warahmatullohi Wabarakuth

Salam sejahtera,

Syaloom,

Om Swastiastu,

Namo Buddhaya

Kesejahteraan lah untuk kita semua..


Tentunya yang paling utama, kita semua mesti bersyukur ke hadirat Allah SWT, Tuhan Yang Maha Kuasa, kita diberi kesehatan, diberi umur untuk sama-sama dapat mengikuti proses pesta demokrasi pemilihan Kepala Daerah Batam pada 9 Desember mendatang.


Seluruh saudara ku warga Batam dimana pun engkau berada..


Membuka surat ini, Izinkan saya Lukita Dinarsyah Tuwo untuk Mengingatkan kita semua pada sebuah pidato fenomenal Ir. Soekarno dalam HUT Jakarta di tahun 1962. Pidato itu mengena, bukan saja mengingatkan kepada mereka Para pemimpin, tapi kepada seluruh elemen masyarakat yang berkontribusi untuk melakukan pembangunan.


“Marilah Saudara-saudara, hai saudara-saudara dari Djakarta, kita bangun kota Djakarta ini dengan cara semegah-megahnya. Megah bukan saja materiil, megah bukan saja karena gedung-gedungnya pencakar langit, megah bukan saja ia punya boulevard-boulevard, lorong-lorongnya yang indah, megah bukan saja ia punya monumen-monumen indah, megah di dalam segala arti, sampai di dalam rumah-rumah kecil daripada Marhaen di kota Djakarta harus ada rasa kemegahan”

(Sukarno, pidato ulang tahun Jakarta ke-435 tahun 1962).


Setiap kali mengingat pidato ini, maka setetes air mata akan tumpah menyerap dasar sanaburi. Menurut saya, Presiden Soekarno benar, pidatonya membakar jiwa, membakar semangat, membangkitkan nasionalisme saya untuk terus dapat menghadirkan kemegahan didalam hati-hati Marhaen (masyarakat kecil) yang sedang susah saat ini.


Warga Batam yang saya cintai..


Keputusan saya untuk maju menjadi Calon Walikota Batam bukanlah sebuah keputusan yang tanpa sebab. Ada kegundahan, kegelisahan yang membayangi saya atas banyaknya persoalan yang terjadi dikota ini.


Tuhan Yang Maha Esa memberikan saya jaringan yang luas di Pemerintah Pusat dan Relasi di skala Internasional, kekuatan itu akan menjadi sebuah anugrah bagi kita semua untuk mengembalikan kondisi hancurnya perekonomian Batam hari ini.


Demi Allah, Tuhan semesta alam, Allah berikan saya hati yang sensitif untuk merasakan kegelisahan disetiap hati masyarakat. Saya ingin menjadikan momentum ini sebagai Pengabdian saya kepada seluruh masyarakat Batam tanpa terkecuali.


Suatu sore jelang Maghrib saat berkunjung kesalah satu sudut kota Batam, saya mendapati Kakek tua dengan sepeda Onthelnya membawa beberapa karung berisi kaleng dan plastik bekas minuman. Pikiran saya, Usia Bapak tersebut sudah mencapai 70 Tahun atau lebih dari senja.


Saya stop dia, sembari bertanya mau kemana dan dimana rumahnya. Lantas sang Kakek tersebut pun membawa saya kesebuah tempat dengan kondisi yang memprihatinkan. Daerah kumuh, lantai tanah dengan dinding yang banyak tertambal koran dan kardus.


Persis di sebelah pintu, ada gambar Ir Soekarno dengan pakaian kebesarannya terlihat gagah ditempat itu. Kakek menyebut tempat itu sebagai rumah. Rumah kecil tanpa jendela, tak ada sekat antara dapur dan ruang tidur. Semua menyatu sama halnya ruang tamu juga berfungsi sebagai ruang tidur.


Kakek menggunakan tilam gulung yang terlihat Kusam, Lusuh dan lembab. Saya mencoba menyelidiki disekitar tempat itu. Tak ada yang berharga secara materiil, hanya sepeda satu-satunya yang memiliki nilai jual.


Kakek tinggal seorang diri, tak ada lagi ambisinya dalam hidup ini. Usianya benar telah 77 Tahun. Menunggu maut datang untuk bertemu sang Istri.


Kakek telah tinggal di Batam sejak tahun 1984. Perantau asal Sumbawa itu menyebut Batam adalah kampung keduanya. Meski , Sebagai saksi perjalanan bertumbuhnya Batam, Kakek mengaku tak terjamah oleh megahnya infrastruktur kota.


Saudara ku sekalian…


Kakek adalah gambar dari Pidato Ir Soekarno. Kegagahan Batam masa lampau tak bisa dinikmatinya saat ini. Kakek adalah perwakilan dari seluruh kegelisahan Wajah-wajah warga Batam saat ini.


Sebuah alasan sederhana mengapa saya harus hadir di Batam, mengabdikan diri untuk maju dipilwako Batam ini. Kakek adalah salah satu alasan saya hadir dikota ini. Ratusan kakek-kakek yang belum beruntung, ibu-ibu janda yang kurang beruntung, anak – anak muda yang kurang beruntung dan kemegahan yang tak masuk dalam bilik rumah warga.


Bismillah, saya telah mengikrarkan sebuah jalan hidup saya, kepada mereka yang merasa kehidupan tak berpihak, kepada mereka yang kurang beruntung mengadu nasib, kepada kakek renta/ nenek renta, kepada mereka yang hidup dibawah jembatan, kepada mereka yang tergusur dari kenyamanan, kepada mereka yang tak ada tempat untuk mengeluh, kepada mereka yang hilang kebahagiaan.


Saya Lukita Dinarsyah Tuwo memohon doa restu kepada seluruh masyarakat Batam untuk dapat menghadirkan rasa kemegahan-kemegahan dihati masyarakat, rasa kemegahan di rumah-rumah masyarakat, rasa bahagia yang lepas dari ketakutan. Sehingga semua warga Batam mendapatkan Kemegahan dirumah-rumah mereka.


Izinkan saya untuk memohon doa restu untuk menggantikan menjadi orang tua asuh bagi anak-anak yang terlantar, anak-anak yatim Piatu, anak-anak yang belum terpelihara dan nyaris hilang masa depannya.


Sebuah kegelisahan sendiri bagi saya atas kondisi ril hari ini, Insha Allah jika amanah menjadi walikota Batam itu diberikan kesaya, maka kita semua dengan kekuatan kebersamaan yang ada akan mencegah adanya anak-anak yang tak mampu bersekolah, pasien yang tertolak rumah sakit karena tak ada biaya hingga nelayan yang tergusur dari tempat mereka bekerja selama ini.


Harapan kita semua, Seluruh warga Batam peduli terhadap nasib satu sama lainnya warga. Sehingga tak ada lagi warga yang ada di Batam yang tak merasakan kebahagiaan, tak mendapatkan kesempatan serta tak mendapatkan sentuhan kepedulian dari Pemrintah.


Kita semua, hanya menjemput takdir dari sebuah cita dan asa. seluruh kekuatan telah kita lakukan bersama. Pada akhirnya, Tuhan adalah tempat sebaik-baiknya perencana. Tugas kita, berusaha, bekerja dan berdoa. Hasilnya biar rencana Allah yang menentukan.


Hormat saya

Lukita Dinarsyah Tuwo

Calon Walikota Batam Nomor urut 1


Wassalamualaikum Warahmatullahi wabarakatuh

Komentar
Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE. #JernihBerkomentar
  • Simak! Isi Surat Lukita Dinarsyah Tuwo Singgung Hancurnya Ekonomi Batam

Berita Lainnya

Ads Responsif

Ads x